Hi, welcome to ahmadrushdi.com, love simple and clean design
I create beautiful website and design good graphic

LINK

islam-m

The word Islam is derived from the Arabic root “salema” which means, among other things, peace, purity, submission and obedience. In the religious sense, the word “Islam” means submission to the Will of Allah and obedience to His law. Everything – other man – and every phenomenon in the universe, all are administered totally by Allah – made laws i.e. the are obedient to Allah and submissive to His laws. So, they are in a state of Islam.

Man possesses the inherent qualities of intelligence and choice. Thus he in invited to submit to the good will of Allah and obey His law like to become a muslim. So the connection between the original and religious sense of word Islam is obvious, Only through submission to the will of Allah and by obedience to His law – become a muslim, can one achieve true peace and enjoy everlasting purity and harmoni in the Hereafter.

The true name of the religion then, is Islam, and those who follow it are Muslims. How ever, islam or submission to the Will of Allah, together with obedience to His law, does not mean loss of individual freedom or surrender to fatalism. Anyone who think or believes so has  certainly failed to understand the true meaning of Islam. In Islam Allah is the Most Merciful and Gracious, the Most Loving and the Most Boundtiful, concerned with the well being of man, with Allah Wisdom and Care for His creatures. he will for Benevolence and Charity, and whatever law He prescribes is for the good of mankind.

In this sense Islam is the eternal message cenveyed to Adam, and to all Allah’s Prophets and Messengers, Including Abraham, Moses, Jesus and Muhammad (PBUH).

In its final form revealed to Allah las Messenger Muhammad (PBUH), the message has been restored, completed and finalized.

* From –  English Course – Al-Azhar University

LINK

LINK

Formula pemakanan genius-genius Islam silam yang menjadi rahsia keajaiban daya intelek mereka. Formula ini terpendam di dalam kitab-kitab tradisional dalam bahasa Arab. Tersembunyi dari pengetahuan orang Arab dan umat Islam sendiri. Namun akhir-akhir ini ada usaha-usaha untuk mengetengahkan kembali kepada umum. Sekarang semacam ada kecenderungan di kalangan ilmuan Islam dan bukan Islam untuk mengkaji dan menguji keabsahan formula ini. Ini didorong oleh penemuan – penemuan saintifik yang membuktikan kebenarannya, khususnya terhadap susu, madu dan telur. Berikut adalah formula pemakanan genius – genius Islam yang telah terbukti berupaya meningkatkan kepintaran dan kekuatan daya ingatan.

Saya menerima  artikel ini melalui emel 4 tahun yang lalu. Saya hanya ingin berkongsi, kerana semua jenis makanan yang tersenarai disini memang mendapat perhatian pengkaji-pengkaji makanan masa kini. Dengan makanan-makanan inilah dijadikan sebagai penawar penyakit-penyakit tertentu. Jom kita Ikuti selanjutnya :

Segala perkara yang dikaitkan dengan Nabi Muhammad SAW dalam artikel ini tidak pasti kesahihannya. Jika sesiapa yang pernah jumpa atau mengetahui bab hadis boleh kemukakan. Atau boleh menghubungi saya. Dan cara makan atau minum mungkin dari amalan Rasulallah atau hanya daripada amalan-amalan orang terdahulu.

LINK

Muhammad adalah keturunan Nabi Ismail, nabi dengan 12 putra. Para nenek moyang Muhammad adalah penjaga Baitullah sekaligus pemimpin masyarakat di Mekah, tempat yang menjadi tujuan bangsa Arab dari berbagai penjuru untuk berziarah setahun sekali. Tradisi ziarah yang sekarang, di masa Islam, menjadi ibadah haji. Salah seorang yang menonjol adalah Qusay yang hidup sekitar abad kelima Masehi.

Tugas Qusay sebagai penjaga ka’bah adalah memegang kunci (‘hijabah’), mengangkat panglima perang dengan memberikan bendera simbol yang dipegangnya (‘liwa’), menerima tamu (‘wifadah’) serta menyediakan minum bagi para peziarah (‘siqayah’).

Ketika lanjut usia, Qusay menyerahkan mandat terhormat itu pada pada anak tertuanya, Abdud-Dar. Namun anak keduanya, Abdul Manaf, lebih disegani warga. Anak Abdul Manaf adalah Muthalib, serta si kembar siam Hasyim dan Abdu Syam yang harus dipisah dengan pisau. Darah tumpah saat pemisahan mereka, diyakini orang Arab sebagai pertanda keturunan mereka bakal berseteru.

Anak-anak Abdul Manaf mencoba merebut hak menjaga Baitullah dari anak-anak Abdud-Dar yang kurang berwibawa di masyarakat. Pertikaian senjata nyaris terjadi. Kompromi disepakati. Separuh hak, yakni menerima tamu dan menyediakan minum, diberikan pada anak-anak Abdul Manaf. Hasyim yang dipercaya memegang amanat tersebut.

Anak Abdu Syam, Umayah, mencoba merebut mandat itu. Hakim memutuskan bahwa hak tersebut tetap pada Hasyim. Umayah, sesuai perjanjian, dipaksa meninggalkan Makkah. Keturunan Umayah, seperti Abu Sofyan mahupun Muawiyah, kelak memang bermusuhan dengan keturunan Hasyim.

Hasyim lalu menikahi Salma binti Amr dari Bani Khazraj, perempuan sangat terhormat di Yatsrib atau Madinah. Mereka berputra Syaibah (yang bererti uban) yang di masa tuanya dikenal sebagai Abdul Muthalib bapa saudara Muhammad. Inilah ikatan kuat Muhammad dengan Madinah, kota yang dipilihnya sebagai tempat hijrah saat dimusuhi warga Mekah. Syaibah tinggal di Madinah sampai Muthalib yang menggantikan Hasyim kerana wafat menjemputnya untuk dibawa ke Mekah. Warga Mekah sempat menyangka Syaibah sebagai budak Muthalib, maka ia dipanggil dengan sebutan Abdul Muthalib.

Abdul Muthalib mewarisi kehormatan menjaga Baitullah dan memimpin masyarakatnya. Namanya semakin menjulang setelah dia dan anaknya, Harith, berhasil menggali dan menemukan kembali sumur Zamzam yang telah lama hilang. Namun ia juga sempat berbuat fatal: berjanji akan mengorbankan (menyembelih) seorang anaknya bila ia dikaruniai 10 anak. Begitu mempunyai 10 anak, maka ia hendak melaksanakan janjinya. Nama sepuluh anaknya dia undi (‘kidah’) di depan arca Hubal. Abdullah, ayah Muhammad yang terpilih.

Masyarakat menentang rencana Abdul Muthalib. Mereka menyarankannya agar menghubungi perempuan ahli nujum. Ahli nujum tersebut mengatakan bahwa pengorbanan itu boleh diganti dengan unta asalkan nama unta dan Abdullah diundi. Mula-mula sepuluh unta yang dipertaruhkan. Namun tetap Abdullah yang terpilih oleh undian. Jumlah unta terus ditambah sepuluh demi sepuluh. Baru setelah seratus unta, untalah yang keluar dalam undian, meskipun itu diulang tiga kali. Abdullah selamat.

Peristiwa besar yang terjadi di masa Abdul Muthalib adalah rencana penghancuran Ka’bah. Seorang panglima perang Kerajaan Habsyi (kini Ethiopia) yang beragama Nasrani, Abrahah, mengangkat diri sebagai Gubenor Yaman setelah ia menghancurkan Kerajaan Yahudi di wilayah itu. Ia terganggu dengan reputasi Mekah yang menjadi tempat ziarah orang-orang Arab. Ia membangun Ka’bah baru dan megah di Yaman, serta akan menghancurkan Ka’bah di Mekah. Abrahah mengerahkan pasukan gajahnya untuk menyerbu Mekah.

Mendekati Mekah, Abrahah menugaskan pembantunya, Hunata untuk menemui Abdul Muthalib. Hunata dan Abdul Muthalib menemui Abrahah yang berjanji tidak akan mengganggu warga bila mereka dibiarkan menghancurkan Baitullah. Abdul Muthalib pasrah. Menjelang penghancuran Ka’bah terjadilah petaka tersebut. Qur’an menyebut peristiwa yang menewaskan Abrahah dan pasukannya dalam Surat Al-Fil. “Dan Dia mengirimkan kepada mereka “Toiron Ababil”, yang melempari mereka dengan batu-batu panas yang terbakar, maka Dia jadikan mereka bagai daun dimakan ulat”.

Pendapat umum menyebut “Toiron Ababil” sebagai “Burung Ababil”. Buku “Sejarah Hidup Muhammad” yang ditulis Muhammad Husain Haekal mengemukakannya sebagai wabak kuman cacar. Namun ada pula analisa yang menyebut pada tahun-tahun itu memang terjadi hujan meteor, hujan batu panas yang jatuh atau ‘terbang’ dari langit. Wallahua’lam. Yang pasti masa tersebut dikenal sebagai Tahun Gajah yang juga merupakan tahun kelahiran Muhammad.

Pada masa itu, Abdullah putra Abdul Muthalib telah menikahi Aminah. Ia kemudian pergi berniaga ke Syam, Syria. Dalam perjalanan pulang, Abdullah jatuh sakit dan meninggal di Madinah. Muhammad lahir setelah ayahnya meninggal. Hari kelahirannya ditentang orang. Namun, pendapat Ibn Ishaq dan kawan-kawan yang paling banyak diyakini masyarakat: yakni bahwa Muhammad dilahirkan pada 12 Rabiul Awal. Orientalis Caussin de Perceval dalam ‘Essai sur L’Histoire des Arabes’ yang dikutip Haekal menyebut masa kelahiran Muhammad adalah pada bulan Ogos 570 Masehi. Ia dilahirkan di rumah bapa saudaranya, tempat yang kini tidak jauh dari Masjidil Haram.

Bayi itu dibawa Abdul Muthalib ke depan Ka’bah dan diberi nama Muhammad yang bermaksud “terpuji”. Suatu nama yang tak lazim pada masa itu. Konon, Abdul Muthalib sempat hendak memberi nama bayi itu Qustam , serupa nama anaknya yang telah meninggal. Namun, Aminah berdasarkan ilham mengusulkan nama Muhammad itu.